Jumlah Pengunjung

Rabu, 28 Desember 2016

HAKIKAT DAN MACAM-MACAM PUISI



BAB I
                                                     PENDAHULUAN               

1.1   LATAR BELAKANG
Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang paling menarik tetapi pelik. Sebagai salah satu jenis sastra, puisi merupakan pernyataan sastra yang paling utama. Segala unsur seni sastra mengental dalam puisi.
Puisi mengandung karya estetis yang bermakna, mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, merangsang panca indra dalam susunan yang berirama. Puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang digubah dalam wujud yang paling berkesan. Puisi dapat membuat kita tertawa, menangis, tersenyum, berfikir, merenung, terharu bahkan emosi dan marah.
Sampai sekarang, puisi selalu mengikat hati dan digemari oleh semua lapisan masyarakat karena keindahan dan keunikannya. Oleh karena kemajuan masyarakat dari masa kemasa selalu meningkat, maka corak, sifat dan bentuk puisi pun selalu berubah, mengikuti perkembangan selera, konsep estetika yang selalu berubah dan kemajuan intelektual yang selalu meningkat.
Puisi adalah seni tulis dimana bahasanya digunakan untuk kualitas estetika untuk tambahan atau selain arti semantiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa adalah pembeda dari puisi dan prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Bebrapa ahli modern memiliki bebrapa pendekatan dengan mendefinisikan puisi sebagai perwujudan imajenasi manusia yang menjadi sumber segala kreatifitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan hati seseorang yang membawa orang lain kedalam keadaan hatinya. Di indonesia puisi telah mulai ditulis oleh hamzah vansuri dalam bentuk syair melo dan di tulis dengan huruf arab di akhir abad ke 16 atau awal abad ke 17 (ismail 2001) 


1.2   RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas, maka masalah yang akan kami bahas adalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan puisi ?
2.      Jelaskan macam-macam puisi?

1.3. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan puisi.
2.      Untuk menegetahui macam-macam puisi.

















BAB II
 PEMBAHASAN
2.1   Hakikat Puisi
Puisi merupakan sebuah kata-kata indah, Puisi memiliki jenis-jenis atau macam-macam puisi. pengertian puisi adalah karangan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan mengutamakan keindahan kata-kata. Oleh karna itu, puisi dapat mengungkapkan berbagai hal kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan, dengan ungkapan kata-kata indah.
Tarigan (dalam Djososuroto, 2006:10), mengatakan bahwa kata puisi berasal dari bahasa Yunani “poeisis” yang berarti penciptaan. Dalam bahasa Inggris disebut poetry yang berarti puisi, poet berarti penyair, poem berarti sajak atau syair. Arti yang semacam ini lama-kelamaan dipersempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kata-kata kiasan”. Dapat dikatakan bahwa puisi adalah pengucapan dengan perasaan, berbeda dengan prosa yang diungkapkan melalui pengucapan dengan pikiran.
Pengertian lain dikemukakan Zulfahnur (1996:79) bahwa puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) seseorang tentang kehidupan manusia, alam, dan Tuhan dengan media bahasa yang indah yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya, dalam bentuk teks.
Sejalan dengan pemikiran Najid (2003:14), puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra. Puisi adalah jenis sastra imajinatif yang mengutamakan unsur fiksionalitas, nilai seni, dan rekayasa bahasa.
Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dengan pemilihan kata-kata kias/imajinatif (Waluyo, 2005:1).
Puisi menurut (Tjahjono, 2000:1) ialah sebagai pembentuk, pembangun atau pembuat, karena memang pada dasarnya dengan menciptakan sebuah puisi maka seorang penyair telah membangun, membuat atau membentuk sebuah dunia baru, secara lahir maupun batin.
Pradopo (2005:7), menyatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan berirama. 
Ada ahli yang berpendapat bahwa puisi ialah hal mencari dan melukiskan “yang diidamkan” (the idea). Dengan demikian tujuan isi bukanlah melukiskan kebenaran, melainkan memuja kebenaran dan memberi jiwa suatu gambaran yang lebih indah. Unsur keindahan dalam puisi satu diantaranya adalah rasa (Djososuroto, 2006:10). 
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengertian puisi ialah proses kreatifitas atau pencurahan ekspresi manusia dengan bahasa sebagai alatnya yang dituangkan atau diwujudkan dalam sebuah tulisan. 
Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra. Dalam hal ini puisi dapat dikatakan sebagai perwujudan kepekaan seseorang terhadap alam dan kehidupan dalam usaha mengadakan komunikasi dengan orang lain. Puisi diartikan sebagai “membuat” di atas “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin, 2002:134).


2.2  Macam-Macam Puisi

2.2.1         Puisi Naratif 
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini juga mengandung cerita dengan pelaku, perwatakan, setting maupun rangkaia pristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita.  Puisi ini terbagi ke dalam dua macam, yaitu:

2.2.1.1  Balada
Balada adalah puisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokoh pujaan. Puisi ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu folk ballad dengan litelary ballad sebagai suatu ragam puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia yang berkisah tentang sifat pengasihnya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan, kepedihan dan keriangan.
Contoh:
TERBUNUHNYA ATMO KARPO
karya W.S. Rendra.
Balada Terbunuhnya Atmo Karpo
Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnyadi pucuk-pucuk para
mengepit kuat-kuat lutut penungang
perampok yang diburu surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang
Segenap warga desa mengepung hutan tu
dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.
Satu demi satu yang maju tersadap darahnya
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka
2.2.1.2  Romansa
          Romansa adalah puisi cerita yang menggunakan bahasa romantis, berisi kisah percintaan yang diselingi perkelahian dan petualangan.
Contoh:
              TAMAN
Karya chairil anwar

Taman punya kita berdua
Tak lebar luas, kecil saja
Satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Permadani
Halus lembut di pijak kaki
Bagi kita bukan halangan.
Karena,
Dalam taman punya berdua
Kau kembang, kau kumbang
Aku kumbang,kau kembang.
Kecil, penuh suria taman kita
Tempat merenggut dari dunia dan nusia.

2.2.2        Puisi Lirik
Puisi lirik merupakan sarana penyair untuk mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya (Waluyo, 1995:136). Puisi lirik adalah puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap maupun suasana batin yang melingkupinya. Termasuk puisi jenis ini, antara lain:




2.2.2.1  Elegy
Elegi adalah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya "Elegi Jakarta" karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di Jakarta.
 Contoh:
ELEGI
Karya asrul sani

Ia yang hendak mencipta
Menciptalah atas bumi ini.
Ia yang akan tewas, tewas karena kehidupan.
Kita yang mau mencipta dan yang akan tewas
Akan berlaku untuk ini dengan cinta,
Dan akan jatuh seperti permata mahkota
Berderi sebutir demi sebutir
Apa juga masih akan tiba
Mesra yang kita bawa tiadalah
Kita biarkan hilang karena hisapan pasir
Engkau yang telah berani menyerukan
Kebenaran mu dari gunung dan keluasan
Sekali masak akan di timpa angin dan hujan
Jika suaramu hilang dan engkau mati
Maka kami akan berduka, dan kanan
Menghormat bersama kekasih kami
Kita semua berdiri di belakang tapal,
Dari suatu malam ramai,
Dari suatu kegelapan tiada berkata,
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan
Dari perceraian – tiada mungkin,
Dan snar mata yang tiada terlupakan.
Serulah, supaya kita ada dlam satu barisan
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup mengeringkan kembang kerenyam
Pepohonan sekali layu akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang
Laut india akan melempar parang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian
Aku akan minta supaya engkau
Berdiri curam atas puncak dibakar panas
Dan sekali lagi berseru akan pelajaran baru.
Waktu itu angin juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua
Karena akan segan kepada bunga yang telah berkembang
Disini telah datang suatu perasaan
Serta kita akan menderita dan tertawa.
Tawa dan derita yang tewas yang mencipta...

2.2.2.2  Serenada
Serenada adalah puisi percintaan yang dapat dinyanyikan.Kata "Serenada" berarti nyanyian yang tepat dinyayikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan sajak misalnya " Serenada Hitam", "Serenda Biru", "Serenada Merah Jambu", "Serenda Ungu" , "Serenada kelabu", dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenada itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu : ada yang bahagia,sedih, kecewa, dan sebagainya.
 Contoh:
SERENADA KELABU
Karya W.S. Rendra

1
Bagai daun yang melayang.
Bagai burung dalam angin.
Bagai ikan dalam pusaran.
Ingin ku dengan beritamu!
2
Ketika lewati kali terbayang gelakmu
Ketika melewati rumputan terkenang segala kenangan.
Awan lewat indah sekali
Angin datang lembut sekali
Gambar-gambar di rumah penuh arti
Pintupun terbuka lebar- lebar
Ketika aku duduk makan ku ingin benar bersama dirimu.

2.2.2.3  Ode
Ode adalah puisi berisi pujaan terhadap seseorang, suatu hal, atau suatu keadaan. Puisi ode, puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan. Puisi ode merupakan puisi pujian terhadap seseorang atas suatu hal atau suatu keadaan. Jenis puisi banyak ditemukan zaman dahulu saat pahlawan Indonesia merebut kemerdekaan.
Contoh
  GENERASI SEKARANG
Karya Asmara Hadi

Generasi sekarang
Diatas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Memandang ke bawah ke tempat berjuang
Generasi sekarang di pandang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan indonesia
Yang jadi kenang kenangan
Pada zaman dalam dunia

2.2.3        Puisi Deskriptif
                        Dalam puisi deskriptif, penyair memberi kesan terhadap suatu peristiwa atau fenomena yang dipandang menarik  perhatian penyair (Waluyo, 1995:137). Jenis puisi yang dapat dikategorikan kedalam jenis ini adalah satire, kritik sosial, dan puisi-puisi impresionistik.
Contoh :

MENGARUNGI ARUS MIMPI
Karya : Nurshalan

Mengalir syahdu di kesunnyian
Menanti sampai kehulu intan
Meliak liuk di bebatuan
Tragedi kelam pada impian.....
Aliran hidup yang semakin deras
Tenaga lemah semakin terkuras
Akankah ada datangnya ruas
Ruas sejajr yang hening terpaksa....
Aliran kelam pada impian
Menyayat hati yang rentan
Mengalir sejajr dikiiri kanan
Akankah bertemu di ruas intan....
2.2.3.1  Satire
                        Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan yang dituangkannya dalam keadaan, yang di tuangkan dengan cara menyindir, atau menyetakan sebaliknya.
Contoh :
TIKUS BERDASI
Karya : Jesika Amanda

Lihat kami
Bekerja keras banting tulang
Mengeluarkan keringat
Hanya untuk sesuap nasi
Upah kami
Hanya sebungkus nasi
Tempat tinggal kami
Di istana di bawah jembatan
Lihat kau
Hidup serba mewah
Bersenang-senang diatas penderitaan kami
Berfoya-foya dengan uang rakyat negri ini
Memang sudah bebas di penjajah
Tapi negri ini
Belum bebas di koruptor

3      Kritik sosial
                        Kritik sosial adalah puisi juga yang menyatakan ketidak senangan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidak beresan keadaan orang tersebut.
Contoh:
SAMPAH POLITIK
Karya : Zeinar

Tidaklah jelas suatu keputusan
Berkoar para pemulut besar
Perdebatan mulai memuncak
Tak peduli akibat dan tanggung jawab
Komentar seakan keputusan mutlak
Peratutan menjadi biang kerusuhan
Ironisasi jiga prasangka buruk
Masyarakat di buat linglung
Siapa yang benar....
Mana yang salah.....
Siapa sang pahlawan
Mana utusan setan
Hanya kemunafikan yang di agungkan
4 mpresionistik
                        Improsionistik adalah puisi yang mengungkapkan kesan penyair terhadap suatu hal.
Contoh:
IBU KOTA SENJA
Karya : Toto Sudarto Bactiar

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai keayangan, kota kekasih
Udara menekan berat di atas jalan berkelokan
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengurai dan layung-layung membara di langit berat daya, kata kekasih
Tekanan aku pada pusat hati mu
Ditengah-tengan kesibukan dan penderitaanmu
Aku seperti mimpi bulan putih dilautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa di selimuti bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan nafas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkit maut
Aku tidak tau apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang becanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan melanggar di pintu dini pagi hari
Serta di keabadian mimpi-mimpi manusia
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan yang mendaki tepi sungai kesayangan
Serta anak-anak berenang tertawa tak berdosa
Dibawah samaran istana kejang
Layung-layung senja melambang hilang
Dalam hutan malam terjulang tergesah
Sumber-sumber mumi menetap terpadam
Senantiasa di selaputi bumi keabuan
Seta senja dan tangan menahan nafas lepas bebas
O, kota kekasih setalah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku

4.1.1        Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Istilah puis kamar dan puisi auditorium dipopulerkanoleh Leon Agusta dalam bukukumpulan puisinya, Hukla. Puisi kamar ialah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja. Puisi kamar lebih berisi perenungan sehingga pemaknaannya bisa di capai lewat pemikiran yang tenang. Kebanyakan puisi Sapardi Djoko Damono bisa di kategorikan dalam jenis puisi kamar.
Contoh:
AKU INGIN

Aku ingin
Aku ngin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepadaapi yang menjadikannya abu.
Akungin mencintaimu dengansederhana
Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
(Waluyo,2003:117)

Puisi Auditorium adalah puisi yang cocokdibacakan di auditorium, mimbar yang jumlah pendengarnya bisa dikatakan banyak. Puisi auditorium di sebut juga puisi mimbar, puisi yang keindahannya semakin bergelora ketika di baca dengan suara lantang. Untuk disebutkan sebagai contoh, Sajak Lisong karya W.S. Rendra bisa dikategorikan dalam jenis puisi mimbar.

4.1.2        Puisi Subjektif dan Objektif
Puisi subjektif atau bisa disebut puisi personal adalah puisi yang mengungkapkan gagasan, pemikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi ekspresionis sema campuisi lirik dapat di kategorikan sebagai puis isubjektif. Puisi objektif atau puisi impersonal merupakan puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Jenis-jenis puisi yang bisa di golongkan sebagai puisi objektif adalah puisi naratif dan deskritptif, meskipunada di antaranya yang subjektif (Waluyo, 1995:138).
Puisi Subjektif disebutjuga Puisi Personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasan adalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang dituliskan umekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif, karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian pula puisi lirik dimana aku lirik bicara kepada pembaca. Puisi Objektif berarti Puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif di sebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakana dalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa yang subyektif.

Puisi Kongkret
            Puisi kongkret yaitu puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar. Di samping makna yang ingin disampaikan oleh penyair, ia juga memperlihatkan kemanisan susunan kata-kata dan baris serta bait yang menyerupai gambar seperti segitiga, huruf Z, kerucut, piala, belah ketupat, segi empat, dan lain-lain.
          Puisi kongkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1970-an. Sutardji Calzoum Bachri termasuk pelopor juga. Puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri banyak yang dapat dikategorikan puisi kongkret. Puisi yang berjudul “Tragedi Winka dan Sihka” ( bentuk zig-zag), Q (mirip sebuah bangunan), Kucing ( segi empat) termasuk puisi kongkret.

Perhatikan puisi kongkret Dharma Sari di bawah ini!

             Drama Sebabak

             a  C  a  r  a  C  a
                                    o             e
                 w             w
                 o              e
                   C   o  w  o   K   a  n  d   K  e  w  e  k
                        o                                       e
                         w                               w
                                e                       o
                                   e                o
                                        e        o
                                             K
                                             a
                                             u
                           O  w  e  e  e  e  e  e  k  k

               Puisi kongkret yang mirip gambar piala, yang garis-garisnya diganti dengan sepuluh huruf itu cukup unik juga. Puisi tersebut mengedepankan sebuah acara remaja antara cowok dan cewek yang berakhir dengan saling menuduh : kau penyebab cewek melahirkan.

Unsur-unsur yang Menonjol dalam Puisi Kontemporer

Unsur-unsur yang menonjol dalam puisi kontemporer ialah :
  1. unsur bunyi  : menggunakan rima dan repetisi
  2. tipografi        : susunan baris-baris atau bait-bait puisi serta cara penulisan huruf
  3. enjambemen: pemotongan kalimat atau frase pada akhir baris dan potongan lainnya diletakkan kembali pada baris berikutnya.
  4. parodi atau unsur kelakar

Makna Puisi Kontemporer

            Puisi yang baik pasti memiliki makna walaupun dalam arti yang berbeda-beda. Meski Sutardji Calzoum Bachri menampilkan kata-kata tanpa makna , ia masih tetap berorientasi kepada makna dalam membawa suasana. Bagaimanapun juga puisi yang berhasil mesti mempunyai makna. Pembaca tidaklah sia-sia jika mencoba mencari makna dalam puisi-puisi kontemporer

a.  Perhatikan puisi Q di bawah ini!

                                      Q
                                     !    !
                                     !    ! !
                                            !             !  !            !  !         !
                                                                             !
                                     !     a
                                             lif          !  !   
                                               l
                                          l       a
                                    l                  a                             m
                                                                          !           !
                               m    m   m   m   m   m   m   m   m   m  m
                                   ii              iii    i      i     i     i     ii     i
                  m  m  m  m m m m m m  m m m m  m m m  m  m  m

                                                            ( Sutardji Calzoum Bachri)

b. Perhatikan puisi “Tragedi Winka dan Sihka” di bawah ini!
       Tragedi Winka dan Sihka
kawin
           kawin
                      kawin
                                kawin
                                           kawin
                                                     ka
                                               win
                                          ka
                                    win
                                ka
                           win
                       ka
                 win
             ka
       win
 ka
      winka
               winka
                         winka
                                  sihka
                                           sihka
                                                    sihka
                                                             sih
                                                         ka
                                                    sih
                                                 ka
                                            sih
                                         ka
                                   sih
                                ka
                            sih
                        ka
                            sih
                                 sih
                                      sih
                                           sih
                                                sih
                                                     sih
                                                          ka
                                                            Ku

                               (Sutardji Calzoum Bachri, 1983)

          Meskipun makna puisi tersebut tidak diungkapkan, bentuk fisik puisi di atas membentuk makna. Puisi di atas merupakan tragedi. Pembalikan kata /kawin/ menjadi /winka/ dan /kasih/ menjadi /sihka/ mengandung makna bahwa perkawinan antara suami istri itu berantakan dan kasih antara suami dan isteri sudah berbalik menjadi kebencian.
          Baris-baris puisi yang membentuk zig-zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan itu. Pada baris ketujuh kata /kawin/ berjalan mundur. Hal ini mengandung makna bahwa cinta dalam perkawinan yang tadinya besar, berubah menjadi semakin lama semakin mengecil. Pada baris ke-15 kata /kawin/ berubah menjadi /winka/, ini berarti percek-cokan dan perpisahan sudah sering terjadi sehingga kata /kasih/berubah menjadi/sihka/, artinya kasih itu berubah menjadi kebencian. Pada baris ke-22 kasih itu mundur sekali, sampai akhirnya tinggal kasih sebelah saja, yakni tinggal /sih/ . Pada akhir puisi ini kawin dan kasih itu menjadi kaku atau mati. /Ku/ diawali dengan huruf kapitall menyatakan bahwa mereka kembali kepada Tuhan.
          Baik puisi “Tragedi Winka dan Sihka” maupun “Q” , keduanya termasuk puisi kongkret. “Tragedi Winka dan Sihka” melambangkan bentuk zig-zag dan “Q” dengan bentuk grafis yang mirip sebuah bangunan.
          Membaca alif lam mim, kita ingat kita ingat kepada Quran. Ini diperkuat dengan judul Q = Quran. Tanda seru sebanyak itu dimaksudkan agar manusia rajun membaca Quran dengan pemahaman yang mendalam. Huruf  alif lam mim juga bermakna agar manusia membuka misteri alam dan semua misteri alam itu ada jawabannya dalam Quran

Contoh lain

                                    
     V V V V V V V V V V V V V V V V V
  V V V V V V V V V V V V V V V V V 
  V V V V V V V V V V V V V V V V V
  V V V V V V V V V V V V V V V V V
  V V V V V V V V V V V V V V V V V
  V V V V V V V V V V V V V V V V V
  V V V V V V V V V V V V V V V V V
  V V V V V V V V V V V V V V V V V
                             V
  !             VIVA PANCASILA            !
                                              
                                        (Jeihan)



          Untuk memahami bentuk puisi semacam ini kita perlu memiliki daya kontemplasi dan imajinasi yang tinggi. Puisi karya Jeihan ini dapat saja kita tafsirkan sebagai perjuangan bangsa Indonesia dalam menggali, merumuskan, menghayati, dan mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara.
          Jumlah V tujuh belas dan jumlah baris delapan mengandung makna diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Memang sejak waktu itu hingga sekarang, untuk mewujudkan suatu kehidupan bangsa yang berdasarkan Pancasila diperlukan proses yang panjang, walaupun banyak tantangan, Pancasila tetap jaya.

Puisi Diafan
Puisi diafan disebut  juga puisi trasparan. Artinya pembaca dapat dengan mudah mengetahui isi atau maksud puisi yang dibacanya. Puisi- puisi
angkatan Pujangga Baru termasuk puisi taransparan. Puisi-puisi mereka agak mudah di pahami.

Contoh Puisi Diafan
DIKAKIMU
Aku mengembara
Badan lemah berdaya tiada
Tinggi gunung yang kudaki
Lepas mega menghadap wala
Berapa kali aku terhenti
Meebah diri melepas lelah
Sekali aku meninjau ke bawah
Takjub melihat permai permata
Mana rumahku mana hamlaman
Mata mencari kelihatan tiada
Sekalian menyatu indah semata
Terpaku diri memandang taman
Tuhanku, hati hasratkan Engkau! Pimpin umat-Mu naik memuncak Tempat mega tiada menutup.

Ku memohon kepadamu..
untuk sekali saja, kau bagi kupingmu..
Mengapa tak jua kau dengar rintihanku
Mengapa tak jua kau dengar isakanku
Ku memohon padamu..
Dengarkan aku, aku mau melakukan apa saja
Agar kita bisa berlayar berdua di samudera manapun.
Kau memalingkan muka..
Tak kau gubris diriku..
Sudah Ku katakan,
Aku lebih gila daripada 'Majnun'
Masih saja tak kau dekap diriku
Konkret

Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. Ada bermacam-macam makna yang muncul karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragam itu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.
Penyair-penyair seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis. Namun belum tentu semua puisi yang dihasilkan bersifat prismatis. Hanya dalam suasana mood seorang penyair besar mampu menciptakan puisi prismatis. Jika puisi itu diciptakan tanpa kekuatan pengucapan, maka niscaya tidak akan dapat dihasilkan puisi prismatis. Puisi-puisi dari orang yang baru belajar menjadi penyair biasanya adalah puisi diafan. Namun kadang-kadang juga kita jumpai puisi gelap.




BAB III
 PENUTUP

4.2                                      Kesimpulan
                        Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengertian puisi ialah proses kreatifitas atau pencurahan ekspresi manusia dengan bahasa sebagai alatnya yang dituangkan atau diwujudkan dalam sebuah tulisan. Dalam hal ini puisi dapat dikatakan sebagai perwujudan kepekaan seseorang terhadap alam dan kehidupan dalam usaha mengadakan komunikasi dengan orang lain. Dilihat dari bentuknya puisi terdiri dari berbagai macam yaitu puisi naratif, puisi lirik, puisi deskriptif, puisi kamar dan auditorium, puisi subjektif dan puisi objektif, puisi konkret,puisi diapandan puisi pragmatis.

4.3                                      Saran
                        Sebagai saran, dalam proses pembuatan makalah tentang macam-macam puisi ini semoga dapat bermanfaat baik secara umum maupun khusus. Kami selaku pembuat makalah apabila terdapat banyak kesalah dalam pembuatan makah menerima kritik dan saran dari pembaca.







DAFTAR PUSTAKA
Aminudin.2014. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Sinar Baru Algensindo
Kokasih, engkos. 2006. Cerdas Berbahasa Indonesdia. Jakarta: Erlangga.
Wellek, R dan Warren, A. 1993.  Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://id.Dewi. 2008. Pengertian Fungsi dan Ragam Sastra.blogspot.com.
http://www.kapasitor.net/community/post/2920-ragam-dan-jenis-puisi



PUISI LUKA KOTA PALEMBANG



LUKA KOTA PALEMBANG
Karya : Nela Oktarina


Hitam langit terselimuti resah
Jiwaku serasa merayap
Saat fajar datang  gantikan malam
Wajahmu anggun tanpa rupa
Mereka bilang kau siang tanpa surya
Siang biru menjelma abu-abu
Sesak terselimuti debu
Yang menyusup sampai bulu hidungku
Penuh duka
Surya terusik debu di tempat berpijak
Sesak
Larik-larik nakal pun mulai terlontar
Pelembang kota kito
Sejenak putih abu-abu menyerbu
Berharap embun datang mengiringi kepergian debu
Seperti lalu…

Naskah drama RACUN TEMBAKAU



RACUN TEMBAKAU
DISADUR DARI ON THE HARMFUL EFFECTS OF TOBACCO KARYA ANTON CHEKOV ATAS TERJEMAH JIM ADHI LIMAS
 *****************************************************************************
 Sinopsis
HARMAN seorang suami berumur, bercambang panjang tapi dipingit. Dia perokok berat dan selalu merasa tertekan oleh istrinya—seorang pekerja atas nama sosial dan amal yang punya sekolah musik partikelir dan indekos buat anak perempuan.
Saat ini Harman diminta istrinya untuk ceramah ”Bahaya Racun Tembakau” di sidang komunitas ilmiah. Tugas ini bukan soal buat Harman, apalagi ia telanjur tahu bahaya asap rokok. Namun masalah justru ada pada Harman, ketika ternyata ia selalu gagal berceramah. Ada kekuatan diluar kendalinya yang mendesak bawah sadar Harman untuk membocorkan kebenciannya pada istrinya. Karena hanya dengan itu ia menemukan jalan pembebasan dari segenap gurita hidup yang membelit kesehariannya. Sekaligus mengurai pengakuannya bahwa istrinya telah meracuni jiwanya, seperti halnya rokok meracuni hidupnya. Rokok itu seperti istri, atau istri itu seperti rokok. Entahlah mana yang benar?
Harman jelas mendamba kebebasan dan hidup yang bersih seperti kertas putih.
Barangkali dia sekadar tokoh penganjur yang jujur, tapi tidak pada dirinya sendiri. Demikianlah, tampaknya menjadi penganjur adalah kepribadian paling mutakhir manusia masa kini untuk selamat meski hal itu bukanlah hidup yang sebenar-benarnya bagi dia. Hidup yang serba palsu. Lalu kalau semuanya palsu, untuk apa tetap berlalu?(*)


NASKAH DRAMA
PAK HARMAN, SEORANG KAKEK TUA YANG MASIH BERSEMANGAT HIDUP. MESKI PULUHAN TAHUN DALAM CENGKERAMAN KUASA SANG ISTRI. ISTRINYA, MEMIMPIN SEBUAH LEMBAGA PARTIKELIR YANG BERGERAK DI BIDANGNYA ATAS NAMA AMAL DAN SOSIAL. SELAIN PUNYA RUMAH INDEKOS BAGI ANAK-ANAK PEREMPUAN.
SEBUAH PANGGUNG KECIL DI RUANG RAPAT MASYARAKAT INTELEKTUAL.

BABAK SATU
PAK HARMAN : (CAMBANGNYA PANJANG, KUMIS DICUKUR KLIMIS, JAS RESMI YANG SUDAH TUA DAN TERLALU SERING DIPAKAI. IA MUNCUL DENGAN SIKAP AGUNG, MANGGUT, DAN MEMPERBAIKI DASINYA) PAGI (ATAU MALAM) HARI. MUSIK MARS MASIH MELATARI SEBAGAI BUKTI PENGHORMATAN PADA DUNIA ILMU PENGETAHUAN. SEBUAH BENDA LAPTOP—KOPOR DI LETAKKAN DI MEJA. PAK HARMAN MENUJU PODIUM.
Sayalah yang tidak punya nyali, tua dan bodoh. Hidup saya di tengah keluarga telah melampaui melodrama dan tragic comedy. Satu-satunya yang membangkitkan spirit hidup saya adalah mempersulit diri setiap jengkal perjalanan hidup dengan membuat cerita-cerita seperti ini, ceramah-ceramah ilmiah kayak begini.
(MEMPERKENALKAN DIRI DENGAN SIKAP AGUNG, MENGUSAP CAMBANGNYA). Selamat malam Saudara-Saudara Sekalian, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, serta adik-adik para pengabdi dan pecinta ilmu pengetahuan. Sesuatu menyebabkan saya harus berdiri dan ceramah di sini. Saya mulai dengan semacam sekapur sirih tentang kejantanan. Saya seorang pria yang harus bangga dengan kejantanan saya karena saya telanjur tahu dimana letak kejantanan saya. Saya yakin tidak semua diantara hadirin sekalian ini tahu persis dimana letak kejantanan anda. Dan di usia senja saya, kebanggaan saya yang tak terkikis habis adalah sepasang cambang panjang dan kumis tipis yang senantiasa tersisir rapi. Lalu, istri saya itu adalah kehormatan saya yang lain. Kami punya tujuh anak perempuan yang dihidupi dari memerah rumah indekos yang oleh istri saya dikhususkan untuk biaya hidup anak-anak kami. Sementara soal hidup saya, ini yang hendak saya tutur kisahkan—selain masalah istri, kumis, berita, cerita, derita, dan sebungkus rokok yang senantiasa menemani saya tiap hari. Inilah sesuatu hal penting bagi hidup saya dan perlu anda dengarkan di sidang masyarakat ilmiah ini. Istri saya mengerti saya seorang penceramah yang jujur. Karena itu harus jujur pula saya akui, saya berbicara di sini di depan hadirin sekalian, sebetulnya bukanlah atas kehendak saya sendiri. Lebih tepatnya kehendak istri saya—si kutu loncat yang cerdik, pintar, keras kepala dan sudah barang tentu berbakat dan berkat itu semua ia bisa mengumpulkan banyak duit untuk memenuhi kebutuhan hidup saya, menghidupi saya. Lain hal bila seringkali ia mengaku tetap miskin, dan tak punya duit meski sebagaimana saya tahu jumlah nomor rekeningnya banyak. Semuanya berisi uang atas namanya. Jadi saya makan dari jerih payah sendiri, meskipun dari kesempatan yang diberikan istri saya.
Seperti kali ini, saya diminta ceramah untuk tujuan kegiatan sosial. Begitulah, pintarnya istri saya bergerak membaca peluang kegiatan amal atau sosial. Apapun kesempatan yang diberikan pada saya, buat saya tidak masalah. Justru saya dengan senang hati bersedia membagi cerita apa saja pada hadirin sekalian dalam kesempatan ini. Apalagi saya seorang penulis cerita yang sudah lebih tigapuluh tahun lamanya. Boleh dibilang saya hidup dari dan untuk cerita itu sendiri atau sayalah mungkin cerita itu. Hidup saya telah benar-benar saya abdikan untuk seluruh cerita-cerita yang saya tulis, dan cerita-cerita yang saya tulis telah demikian menjadi milik saya, jadi bagian hidup saya. Saya sudah terbiasa dan karena itu saya tak peduli sekalipun ceramah ini sebenarnya atas kemauan istri saya. Selama ini, anak-anak senang, istri saya girang, tanpa harus repot dengan posisi saya apakah sebetulnya saya sedang bekerja pada istri, atau tengah dipekerjakan oleh majikan saya dalam hal cerita-cerita saya dan ceramah-ceramah saya. Bagi saya cukup penting manakala saya punya perasaan, perasaan bahwa saya setidaknya telah menjadi majikan atas ceramah saya ini. Sebagaimana saya menjadi majikan bagi rokok saya pada waktu membuat cerita-cerita saya. Sesekali memang pernah muncul di otak saya, pertanyaan, siapa sebenarnya majikan saya dalam hal ini, istri ataukah cerita-cerita saya. Istri saya atau ceramah-ceramah saya. Rokok yang saya hisap atau saya yang dihisap olehnya. Tapi pertanyaan itu kerdil dengan sendirinya setelah tigapuluh tahun lamanya. Sampai kini saya tetap menulis cerita-cerita. Sampai kini saya tetap memberikan ceramah di mimbar-mimbar seperti ini. Sampai tak terhitung berapa bungkus rokok yang saya hisap dan saya dihisap olehnya.
(MEMPERBAIKI DASINYA) Sepanjang waktu saya menghisap istri saya dan saya dihisap olehnya melalui ceramah-ceramah saya. Ceramah saya kali ini saya diminta bercerita tentang bahaya yang mengancam manusia karena menghisap asap rokok. Saya sendiri merokok, tapi kalau istri saya yang menyuruh berdiri di mimbar ini, seperti yang lalu-lalu, saya tak berkutik. Tidak ada jalan lain, karena itu beginilah jadinya cerita itu. Tidak ada yang boleh protes! Bagi saya tidak soal. Bila mungkin bagi hadirin sekalian atau bagi ceramah ini sendiri bermasalah, terkesan cerita dipaksakan, hal itu bukanlah soal bagi saya. Jujur saja, saya tak berniat memaksakan. Tepatnya menganjurkan kepada hadirin sidang keilmuan yang terhormat, untuk menangkap kesungguhan ceramah saya, meskipun ini cuma sepenggal cerita. Karena itu bagi yang tidak siap sungguh mendengarkan, mencermati dan menikmati, sebaiknya ceramah saya tak perlu dilanjutkan dan dicukupkan sampai di sini saja. Sama sekali bagi saya bukan suatu soal, apakah ceramah saya didengar oleh orang yang terpaksa hadir dan memperhatikan atau tidak.
 (KEPADA PENONTON) Bagaimana? Terus atau diakhiri sampai di sini? Lanjutkan? Alhamdulillahirobbilalamin… Bonus saya sehabis drama ini tampaknya bakal mulus… Kalau pejabat birokrat jawabannya: lanjutkan..lanjutkan.
Tapi bila ibu-ibu katanya: terus..terus…(SAMBIL MENGEKSPRESIKAN GAIRAH BERCINTA SEBELUM AKHIRNYA KEMBALI MENJAGA POSISI AGUNG DENGAN MEMPERBAIKI DASINYA. MELIHAT LAJU ARLOJI TANGANNYA) Rusak..rusak..Asu turu ditabrak becak! Serius..serius. Kembali ke monolog! Saya serius berharap mendapat perhatian dari saudara-saudara, bapak-bapak, ibu-ibu dan para intelektual budiman yang respek dengan masalah bahaya racun tembakau dan akibat-akibat buruk dari asap rokok. Meskipun, di lingkungan kedokteran tentu saja racun-racun yang saya maksudkan terkandung pada rokok itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan medis. Rokok dikenal berbahaya tidak saja bagi tuannya, tetapi juga… (BERHENTI SEBELUM KEMBALI KE MASALAH PRIBADI).
Biasanya saya menulis cerita-cerita saya, juga menyampaikan ceramah-ceramah saya itu sambil merokok. Terutama bila menulis cerita saya perlu melepas baju agar perasaan dan tubuh saya terbebas dari beban, sambil sesekali memelintir kumis saya tanpa sadar. Hanya kebiasaan saja. Tapi karena saya diminta ceramah masalah bahaya asap rokok, maka mustahil itu saya sampaikan sambil merokok. Bukti bahwa saya masih punya etika, bukti bahwa saya masih waras. Apa kata dunia bila saya ceramah bahaya asap rokok sambil merokok? Apalagi bila musti dengan bertelanjang dada. Bisa-bisa saya disunat lagi. Maksud saya honor saya disunat lagi. Ah, mungkin saudara-saudara sekalian sudah sunat! (DIULANG) Ah, mungkin saudara-saudara sekalian sudah menduga ini hanyalah upaya saya untuk menghibur diri dari pekerjaan yang dibebankan oleh istri saya, agar saya tak berpikir bahwa sebenarnya pikiran, hati, perasaan, imajinasi, persepsi, interpretasi saya sedang dihisap oleh istri saya sendiri. Tidak salah! Sah-sah saja! Walau sebetulnya, pikiran-hati, perasaan, imajinasi dan tetek mbengek itu semua sudah selama tigapuluh tahun lebih telah dihisap istri saya tidak saja dalam hal cerita. Khususnya, ketika kami saling menghisap di kamar, di tempat tidur atau di lantai sampai kami membuahkan tujuh orang puteri yang cantik-cantik dan tak kalah hebatnya dibanding ibunya itu. (MELIHAT KEMBALI PUTARAN ARLOJI) Jadi sebetulnya dalam hal menghisap ini, bagi saya, istri saya serupa dengan rokok. Pada saat saya sedot, diam-diam melalui mulutnya ia menebar 4000 zat kimia beracun untuk dibenamkan di tubuh saya sampai suatu saat ganti menyedot hidup saya. Biasanya saya ceramah mata kanan saya kekediban, tapi tak perlu hadirin sekalian risaukan karena ini lantaran senewen saja. Saya orang yang sangat gugup, pada umumnya; dan kedipan-kedipan ini sudah mulai sejak kelahiran anak perempuan keempat saya, dan sejak kesibukan sehari-hari saya sebagai intelektual membuat saya seperti ini sekarang. (MASIH MEMANDANGI SISI ARLOJI) Karena sempitnya waktu, sebaiknya ceramah saya jangan melantur ke hal-hal yang tak ada hubungannya dengan rokok.
(TERBURU-BURU) Sebelum saya lupa, sebaiknya saya ceritakan terlebih dulu bahwa istri saya punya jam terbang kegiatan sosial dan amal yang luar biasa. Sering bepergian tidak saja di luar pulau tapi juga ke luar negeri. Amerika. Eropa. Gresik. Lamongan. Ondemohen. Glenmore. Meski jarang bertemu, karena dia telah lama mendelegasikan seluruh urusan keluarga kepada saya, bila bertemu kami banyak bercerita tentang kebobrokan negeri ini. Dia mengomel kesana kemari tentang kesusahan zaman, kemiskinan, korupsi. Padahal, dia sama sekali hidupnya jauh dari kondisi itu semua. Uangnya banyak, makannya kenyang, tidurnya nyenyak, liburannya enak. Sementara suaminya, saya ini, hanya jadi pendengar! Uang saya tak pernah lebih dari cukup. Hanya dari hasil keahlian saya sebagai penulis cerita dan ceramah-ceramah seperti ini. Soal keahlian saya mengurus kamar indekos dan menjaga rumah tangga, juga belanja, mulai dari belanja kebutuhan makanan, keperluan anak-anak, obat flu, supermi, rok mini, sampai tusuk gigi, pembalut dan lain-lain yang tak saya tahu muasal duitnya, saya cuma pegang ballpaint, mencatat di buku laporan keuangan. Terkadang bila saya lupa, malah saya bawa ke kebun karena saya juga merangkap tukang kebun, atau sambil menyiapkan makanan untuk kucing-kucing kesayangan saya.
(MAJU DEPAN PANGGUNG) Nah, saya punya tiga ekor kucing. Di depan istri saya sering saya belai dan anehnya istri saya tidak marah! Ini mungkin bumerang bagi saya memelihara kucing. Suatu malam, saya membuatkan masakan paling enak untuk istri. Makanan kesukaannya itu martabat telor. Maksud saya martabak telor. Berbeda dengan saya, soal makanan, tak satupun makanan yang jadi pantangan saya, tak satupun yang tidak masuk di mulut saya. Semuanya halal masyaallah! Singkatnya, malam itu istri saya tidak berselera dengan masakan martabak buatan saya. Semula ia suruh simpan martabak itu di almari, barangkali lain kali bangkit lagi seleranya dengan masakan buatan saya.
 Tapi kemudian berubah pikiran. ”Lemparkan saja martabak telor itu pada ketiga kucing kesayanganmu!” katanya. Sebetulnya, saya tersinggung. Tersinggung. Mengapa tidak diberikan kepada saya, yang harus jujur saya akui malam itu mengalami lapar luar biasa dan ia tahu tidak ada satupun jenis makanan yang jadi pantangan saya, tak satupun yang tak saya suka. Ah, saya pikir beruntung martabak itu diberikan kepada kucing kesayangan saya. Jadi saya bisa minta cerita pada ketiga kucing itu untuk mengisahkan kelezatannya pada perut dan lidah saya. Pertanyaannya sekarang, mengapa saya jadi sibuk dengan kucing? Ah, tapi ceramah saya sudah ngelantur lagi, sudah menyimpang dari pokoknya. (ARLOJI MAKIN MENAKUTKAN BUATNYA)
Saudara-saudara. Saya mengerti, hadirin sekalian lebih senang menikmati ceramah-ceramah cerita masalah romantis, percintaan remaja, melodrama, tragic comedy dan tentu saja seks. Nah, untuk satu hal yang belakang ini, izinkan saya menyanyikan barang sepotong lagu untuk anda. Boleh? Tarik! (NYANYI-NYANYI LAGU REMAJA BERISI CERITA LUCU SEPUTAR SEKS). Hei..lagu saya bukan yang itu! Ini: Aku suka susunya, hingga tetes terakhir. Satu lagi boleh pakai musik! Balonku ada lima, rupa-rupa namanya. Hijau, kuning kelabu, tidur dengan balonku. Meletus balon hijau, Dor! Sudah. Sudah meletus. Rusak..rusak.. ayu..ayu.. digasak luak!
Lupa..lupa..lupa..lupa..lupa dialognya! Alangkah baiknya sebelum lupa, saya katakan bahwa selain menjaga urusan rumah tangga, menulis cerita, ceramah, saya juga diserahi tugas membuat kliping koran tentang masalah keagamaan dan masyarakat, sesekali melatih kegiatan teater terutama bila untuk kegiatan amal, mengikuti rapat-rapat di lembaga dewan rakyat atau menghadiri undangan komunitas ilmiah dan lembaga swadaya masyarakat. Kadang-kadang saya diminta membuat proposal atau term of refference. Semua itu atas permintaan istri saya, dan bukan atas kemauan saya sendiri. Hah! Ada satu hal yang perlu anda camkan! Apakah diantara hadirin sekalian ada yang wartawan? Atau kritikus teater? Terus terang, saya menulis cerita dan berceramah seperti yang saya sampaikan kepada hadirin ini, saya tidak peduli dimuat atau tidak dimuat di media. Karena memang tidak akan pernah saya tunjukkan pada istri saya mengenai isinya.
Saya hanya perlu membacakan judulnya saja: RACUN TEMBAKAU. Sebab itu, kalau nanti dimuat yang penting tulis judulnya saja. Dan foto saya jangan lupa! Musik gak usah dijepret. Soal isinya bisa berita apa saja, pesawat jatuh, flu babi, soal tki, sinetron manohara dan sebagainya. Ngerti ora kowe? Isi ora penting! Ojo sakkepenake dewe.. teroris kui yo aku iki. Dudu kowe.. Itu pun tak membuat saya habis kawatir. (MAKIN RUSUH) Yang saya takutkan berikutnya, bilamana istri saya membaca TV, melihat koran, atau mendengarkan siaran RRI yang memuat berita saya, cerita saya, derita saya, sehingga jadi tahu keseluruhan isi pikiran saya. Meski andaikan tahu, saya masih punya alibi baru karena itu semua atas kemauaannya. Syukurlah, setidaknya hingga kini masih selamat, jalan cerita halus mulus. Ceramah saya di tempat ini pun masih aman-aman saja. Berikutnya, tentu yang perlu saya wanti-wanti adalah anda-anda sekalitan yang mendengar ceramah ilmiah saya ini, saya peringatkan jangan menceritakan isinya kepada istri saya. Apalagi menguraikan di depannya. Jangankan satu alenia, satu kalimat pun, bahkan satu kata pun jangan sampai ia dengar dari orang lain. Karena bukan mustahil bila orang lain yang berpesan, ia tak segan menyampaikan kalimat: ”Istri saya adalah racun bagi diri saya.” Mungkin, andaikan itu pun terjadi, saya masih menangkis dengan kata lain yang tak kurang mengerikan, maksudnya kata itu adalah: ”Istri saya itu seperti rokok.” Saya memang tak punya nyali untuk mengutarakan maksud sebenarnya, yaitu: NIKMAT DIHISAP DAN KUAT MENGHISAP. Ah, jangan, jangan sampai itu terjadi. Mengerikan. Mengerikan. Perempuan bila memuntahkan amarah itu sungguh di luar batas kemanusiaan. Jangan sampai terjadi. Karena sebetulnya saya sedang berbicara tentang diri saya sendiri, bukan tentang istri saya, bukan tentang pengakuan pembaca setelah membaca cerita-cerita saya, bukan pula tentang pernyataan hadirin sekalian setelah mengikuti ceramah saya. Sayalah yang tidak punya nyali, tua dan bodoh.
(MELIHAT SEKELILING UNTUK BEREMPATI DIRI) Harus jujur saya akui, kini melalui kesempatan seperti ini, juga dalan cerita-cerita saya meski kelihatan enjoy, sesungguhnya saya ingin berteriak berontak setinggi langit atau lari ke ujung dunia—sesuatu hal yang jelas amat sulit saya lakukan. Kepada siapa saya bisa mengadu? Aha! obat mujarab yang bisa saya lakukan hanyalah: Saya ingin menangis. (MENANGIS) Saya harus menangis. Saya harus menangis lebih keras! Saya menangis bukan minta dikasihani. Tapi saya menangis karena ceramah saya pada kesempatan bermain drama ini menghendaki saya menempuh jalan pembebasan dengan cara ini. Terserah, apa kata saudara-saudara sekalian, karena ini kenyataan paling pahit bagi saya waktu merasa sendiri, sepi, dan sunyi di tengah keluarga saya yang seperti ini. Bermain drama ceramah ilmiah itu susah. Tobat..tobat..soto babat campur kawat… Penontone akeh, gajiku gak mundhak-mundhak! Saudara-saudara sekalian boleh menyalahkan saya, dan memang sedikit banyak saya merasa bersalah. (TABLO—MENGATUR DUDUK) Tapi kalau hadirin sekalian berkata, anak-anak perempuan sayalah seharusnya yang bisa mengusir kesunyian ini, itu sama sekali tidak benar.
(MEMPERTONTONKAN SISA BANGGA) Anak-anak saya seperti anak-anak zaman sekarang tidak mau tahu dan tidak banyak tahu. Mereka cuma maunya beres, cekikikan di sana-sini, hidup bergaya pakai barang buatan Eropa-Amerika. Chating, SMS, Facebook! Oya, istri saya punya 7 anak perempuan. Yang sulung bernama Ana, umurnya 27 tahun, yang bungsu bernama Ani sudah berumur 17 dan yang mulai membesar namanya Anu puanjangnya 19 centitahun. Ha..ha..rusak! rusak! Ayu..ayu.. panganane cecak!
Saudara..saudara, ibu-ibu, bapak..bapak, siapa yang punya anak bilang aku aku yang telah malu..eh! Saudara-saudara sekalian yang budiman, sekali lagi dengan hormat saya minta: Jangan ceritakan apapun mengenai ceramah dan cerita saya ini pada istri saya. Awas!
BABAK DUA
(MUSIK SENANTIASA MEMBUAT PAK HARMAN KEMBALI PERCAYA DIRI, GAGAH DALAM PENDERITAAN).
Saya memang sengsara, menderita, dungu, dan tidak berarti. Tapi, dengan ceramah dan hadir di sini, serta melalui cerita-cerita saya, saya harus tunjukkan sayalah seorang ayah yang paling bahagia. Sudah seharusnya seperti ini dan saya tidak punya nyali menafikkan ini. Tigapuluh tahun lebih bukan waktu yang pendek untuk penderitaan saya ini. Harus saya katakan justru itulah sepanjang waktu paling subur. Dari penderitaan itu, harus anda sekalian ketahui, ceramah dan cerita-cerita saya adalah titik terang kebahagiaan itu. Sekarang. Yang lain prek! Persetan! Inilah tiba saatnya kesempatan bagi saya menyingkap titik terang dalam hidup saya. Sesuka saya.
 (MERATAP DALAM HENING) Saya ini sangat penakut, tapi ternyata anak-anak perempuan saya juga telanjur menjadi korban dari kehendak hidup istri saya. Dari ketujuh anak-anak perempuan saya, satupun belum ada yang kawin. Mungkin karena pemalu. Tapi jangan-jangan memang dilarang kawin oleh ibunya, karena yang dia tahu tentang laki-laki hanyalah saya bapaknya. Tapi satu hal yang pasti, istri saya paling tidak suka bikin pesta, dia tidak pernah undang siapa-siapa untuk hadir dan makan, dia kliwat judes, adatnya jelek, perempuan tukang cekcok, sehingga tidak ada yang mau datang bertamu.
(MELIHAT LAGI SEKELILING) Tolong, saudara-saudara untuk tidak mendengarkan cerita saya pada bagian ini dan maaf kalau saya tidak percaya sepenuhnya pada anda, karena jangan-jangan bakal anda ceritakan pada istri saya. Istri saya itu ibarat tomat, lek bengi tobat awane kumat. Satu hal lagi yang perlu anda sekalian ketahui: saya lebih bebas menghadiri pesta bila tanpa istri dan anak-anak saya. Tentu bisa anda duga apa yang terjadi. Mabuk! Maabukk!!! Sayalah pemabuk dengan minuman apapun yang memabukkan, karena dengan demikian inilah cara kedua saya untuk mampu berasa bahagia sekaligus sedih. Sulit memang mengambarkan kemabukkan seperti ini.
(MENGUMBAR GAIRAH) Namun bermain dramalah gambaran paling mudah untuk menyingkap perasaan seperti itu. Bahagia tapi sedih. Semacam kebahagian tapi palsu. Atau kebahagiaan yang hanya ada dalam cerita. Kebahagiaan yang disusupi sesuatu yang membikin saya ingin lari, ingin segera minggat. Oh, andai saudara-saudara sekalian bisa merasakan bagaimana saya ingin melakukan itu! Lari, meninggalkan semua ini, lari tanpa menengok asalkan bisa minggat dari kehidupan yang hina, kejam, marah ini, yang sudah menjadikan saya tua bangka bobrok, tua bangka edan; minggat dari si pelit goblok, galak, dengki, yang jiwanya sempit serta menjengkelkan itu. Istri saya itu, yang sudah menyiksa saya lebih TIGA PULUH tahun lamanya! Saya ingin minggat dari kemunafikan, dari dapur, dari urusan duit istri saya, dari segala persoalan tetek mbengek. Tetek-nya jangan! Minggat dari segala persoalan mbengeekkk!!! Lari..lari..lari…untuk berhenti di suatu tempat yang jauh, jauh sekali di suatu padang, untuk berdiri sendiri menjulang seperti pohon rindang, seperti tiang, seperti memedian pengusir burung di tengah sawah, di bawah langit yang lebar, dan semalaman terus memandang bulan terang yang sunyi di atas kepala, lalu melupakan, melupakan!
 (NYARIS MENGIGAU) Oh, saya merindukan kemampuan tidak mengingat saya. Tapi betapa ingatan saya tak sabaran. Saya malah ingat bagaimana 33 tahun lalu menjambret jas tua jelek ini, yang kemudian saya pakai untuk pernikahan kami. Ingatan saya memang tak sabaran, saya ingat lagi tas sialan ini yang telah tigapuluh tahun lebih menyimpan rahasia saya, amplop-amplop honor saya, menyimpan dosa dan kejahatan saya. Oh..saya betul-betul merindukan kemampuan tidak mengingat. Saya merindukan kepala saya, pikiran saya, perasaan saya, emosi saya bersih dari segala noda bernama ingatan. Bersih seperti kertas putih yang dihapus dari catatan harian, angka-angka dan daftar utang piutang. Ingatanlah yang telah membawa saya melompat-lompat, menyeret-nyeret pada jurang masa lalu, masa kini dan masa depan. Ingatanlah yang menyebabkan saya muter-muter ke sana kemari. Ya, saya sich sudah muter balik kemari ke sana, tapi ujung-ujungnya tetap karena saya punya ingatan. Ini yang menyiksa saya. Ini yang menyulitkan saya. Saya merindukan saat saya tak perlu sibuk tahu berapa umur saya, siapa istri saya, berapa jumlahnya dan mau apa besok sesudah pentas drama ini usai. Bayangkan bila saya tak punya ingatan, betapa jernih hidup sehari-hari saya. Tak perlu saya mengisahkan bagaimana si kutu loncat istri saya itu menghisap saya hingga tigapuluh tahun lebih ini. Saya bayangkan bila saya tanpa ingatan, maka saya hanya perlu bermain sesuka saya, bermain drama sekehendak hati saya, karena bagi saya setiap waktu adalah masa kini. Masa kini, masa kini thok!. Yang lain prekethek! Drama ini tak bakal serumit dan sesulit pertunjukan malam ini. Atase drama wae, kok! Tapi kenyataannya malam ini tidak sebegitu enteng. Kenyataannya, saya perlu mempersulit diri dalam bermain drama biar katanya lebih berbobot. Padahal itu jelas-jelas menyiksa saya, menganiaya saya. Soro..soro.. tibake sampean seneng lek awake dhewe soro! Tobil..tobil..soto babi campur krikil..!!Sampean-sampean ternyata senang kan bila saya tersiksa? Kebangeten! Saya juga jadi nggak tahu kenapa, saya juga senang menyiksa diri. Heran saya! Padahal saya tahu ini penyakit mashokis, senang menyiksa diri. Syukurlah, cintalah yang membuat saya betah dan terhibur di tempat ini, di dunia ini, di pertunjukan ini: Istri (kedua) dan drama. Cinta pula yang menyebabkan saya perlu sedikit kompromi dengan ingatan, penderitaan, kekonyolan. Saya perlu mengajak bercanda masa lalu, masa kini dan masa depan dengan cara seperti ini: Berputar-putar saja tanpa harus memikirkannya. Saya perlu bercengkerama dengan nama-nama baru yang telah hidup di pikiran, hati, perasaan dan emosi saya, sebagaimana halnya saya memanggil KUTU LONCAT pada istri. Jujur saja saya tak perlu memikirkan itu semua bila saya tak ingin lebih tersiksa lagi dengan ingatan seperti ini. Susah. Sungguh Susah. Susah Sungguh menjadi orang cerdas seperti saya. Mungkin sudah menjadi ciri khas bahwa mutlak bagi orang CERDAS untuk SUSAH SUNGGUH! Atau salah satu syarat menjadi CERDAS adalah SUSAH SUNGGUH. Atau bila ingin menjadi CERDAS harus belajar SUNGGUH SUSAH. (MEMPROTES KE ATAS) Ah! Mana yang benar, BOS? Hei! Kok SUSAH SUNGGUH jadi orang BENAR! ….. Kamu sudah mengirim Surat Sapi Betina dan tidak melarang umatmu mengumpat ke angkasa, tapi itu semua tidak membuat saya menjadi lebih baik! Kamu malah mengirimkan pesawat-pesawat tempur tentara negara saya berjatuhan dari angkasa. Yang benar saja!
 (MENGAMUK. MEMBUANG HURUF-HURUF PADA LAPTOP—KOPOR )
Sialan! Sialannn!!!!
 (HENING. PAK HARMAN MEMUNGUTI LAGI ISI LAPTOP—KOPORNYA. SAMBIL MELANJUTKAN CERAMAH)
(IA MENGAMBIL ”SEBATANG TUBUH SEORANG PEREMPUAN.” LALU DIBAWA KE RUANG DALAM.
Rasakan! Kuinjak-injak kau! Rasain! (SUARA MENGINJAK-INJAK ATAU MEMPERKOSA TUBUH PEREMPUAN ITU) Saya sudah tua, melarat, sengsara, menderita. Saya sudah nyaris habis menghisap kamu tapi kamu tak habis-habisnya menghisap saya! Keinginan saya tidak muluk-muluk.
(SEMENTARA DARI BELAKANG PANGGUNG PAK HARMAN TETAP BERCELOTEH, PERLAHAN-LAHAN SEPASANG KAKI SEKSI PEREMPUAN ITU MENYEMBUL DARI BALIK TIRAI. KEDENGARANNYA AMARAH PAK HARMAN PUN MEMUNCAK. LALU DISUSUL GERAKAN DAN SUARA-SUARA HISTERIS YANG MENGGODA. SAMPAI PADA ORGASME TUBUH DAN JIWANYA) Saya sebagai lelaki hanya ingin mendapat hidup yang bersih, tidak dihisap. Kalaupun saya menghisap kamu itu karena saya membutuhkan kenikmatan kamu. Saya pernah muda, saya pernah belajar di universitas, saya pernah punya cita-cita, saya pernah menganggap diri saya seorang lelaki. Saya cukup punya kehormatan untuk mendapatkan hidup yang bersih, tidak terus-terusan dihisap, dan mengumpulkan penyakit di tubuh saya. Sekarang saya tidak mau apa-apa! Tidak mau apa-apa selain istirahat, hei kamu bini sialan!
 BABAK TIGA
(HENING. DAN PAK HARMAN MUNCUL LAGI DARI BALIK TIRAI DALAM KEADAAN SETENGAH BUGIL. SAMBIL MELANJUTKAN CERAMAH ALA KADARNYA SEBELUM AKHIRNYA IA MERASA ADA ADEGAN YANG PERLU DIULANG)
Saya seorang pria yang harus bangga dengan kejantanan saya, karena saya telanjur tahu dimana letak kejantanan saya.
(MENGAMBIL SEBATANG ROKOK. TAPI CEPAT SADAR. LALU MENCABUT DENGAN KASAR ROKOKNYA YANG TELAH TERJEPIT DI ANTARA DUA BIBIR. MEMBUANG DI LANTAI BAWAH KAKI)
Sampah! Sampah! Rasakan! Puntung buntung! Tak bawa untung! Kuinjak-injak kau! Rasain! (MENGINJAK-INJAK) Saya sudah tua, melarat, sengsara, menderita. Saya sudah nyaris habis menghisap kamu tapi kamu tak habis-habisnya menghisap saya! Keinginan saya tidak muluk-muluk.
(TIBA-TIBA SEBENTUK BENDA YANG LUAR BIASA BERUKURAN BESAR JATUH DARI LANGIT-LANGIT: SEBUAH ROKOK. AMARAH PAK HARMAN PUN MEMUNCAK. LALU DISUSUL TARIAN PENGGODA DENGAN MENGUSUNG BENDA BESAR ITU SETELAH TERLEBIH DULU BERHASIL MEREBUTNYA) Saya sebagai lelaki hanya ingin mendapat hidup yang bersih, tidak dihisap, kalaupun saya menghisap kamu itu karena saya membutuhkan kenikmatan kamu. Saya pernah muda, saya pernah belajar di universitas, saya pernah bercita-cita, saya pernah menganggap diri saya seorang lelaki. Saya cukup punya kehormatan untuk mendapatkan hidup yang bersih, tidak terus-terusan dihisap, dan mengumpulkan penyakit di tubuh saya. Sekarang saya tidak mau apa-apa! Tidak mau apa-apa selain istirahat, hei kamu bini sialan! Toolooong…Saya ingin istirahat…
(TERKEJUT DAN PANIK MENDENGAR ISTRINYA HENDAK TIBA) Maaf, hadirin sekalian, istri saya sepertinya mau memeriksa pekerjaan saya. Dia hampir tiba di sini. (MAJU LALU MUNDUR) Kalau anda ditanya, mohon katakan dengan jawaban, ”Cerita saya hanya untuk ditonton para perokok dan tentu saja perokok pasif karena di tubuhnya dibenamkan 4000 racun asap rokok. (MAJU LAGI, LALU MUNDUR) Katakan juga seluruh rangkaian drama ini didedikasikan untuk para korban kekejian asap dari pecandu rokok yang kian menggurita di dunia.
(PAK HARMAN KIAN JADI PANIK DI DEPAN PENONTON SEBELUM AKHIRNYA KE BELAKANG) Katakan juga bagi yang bukan perokok bisa dimengerti bila kurang paham drama cerita saya ini sssstttt…karena saya perokok. (LAGI, KE MAKIN KE DEPAN) Ada pesan yang lupa! Bagi saudara-saudara yang mau menyumbangkan uang untuk keluarga saya, nanti bisa tanya nomer rekening saya di belakang panggung ya! Tapi bagi yang kirim doa, boleh-boleh saja, asal langsung dan tidak melalui perantara.
(MERASA ISTRINYA DI AMBANG PINTU. PAK HARMAN RUSUH LUAR BIASA. KACAU, MEMBENAHI BAHAN CERAMAH ILMIAHNYA. SAMBIL MULUTNYA SEPERTI MESIN BERCERITA. BARANGAKALI PAK HARMAN KINI SEDANG MENGALAMI KEGONCANGAN JIWA)
Menurut data yang dihimpun Center for Relegion and Community Studies (CRCS), tahun 2007 angka cukai rokok mencapai Rp 37 triliun. Bayangkan, bila dari perolehan upeti sebesar itu, negara perlu mengeluarkan sejumlah Rp 167 triliun untuk menangani akibat penyakit yang ditimbulkan rokok. Fakta ini akan lebih mengejutkan kalau kita melihat hampir 70 persen perokok adalah warga miskin yang jaminan kesehatannya jadi tanggungan negara. Tercatat 456 perokok meninggal dunia dalam setiap jam. Di Indonesia, rata-rata 427.948 jiwa melayang oleh sebab yang sama. Tahun 2009 ini, proyeksi perolehan cukai negara mencapai RP 53 Triliun dan Dana Alokasi Cukai Hasil Tembakau yang dibagi sebesar Rp 960 miliar. Sayang itu digunakan untuk urusan tetek mbengek cukai juga. Jadi tidak ada urusan dengan perokok. Apalagi yang sudah sekarat akibat asap rokok.
 MUSIK PENUTUP